Si Kembar Noli dan Nola

 


Si Kembar Noli dan Nola

 

Di sebuah rumah hiduplah Noli, si semut hitam. Noli tinggal bersama kedua orang tua dan saudara kembarnya yang bernama Nola. Noli sangat rajin dan suka membantu kedua orang tuanya. Noli juga sangat menyayangi Nola. Berbeda dengan Noli, Nola sangat malas, cuek dan pemarah. Setiap hari waktunya habis dibuat rebahan sambil bermain ­game di ponselnya hingga larut malam.

Di suatu pagi yang cerah saat Noli membuka jendela kamarnya. Segera dibangunkanya Nola agar bergegas mandi.

“Nola, bangun! Sudah pagi, nih. Ayo, mandi.”

“Uh, mengganggu saja kamu ini!” Sahut ketus Nola dengan mata yang masih mengantuk.

“Eh, ayo kita bersepeda mumpung hari libur dan cuaca cerah.” Ajak Noli.

“Ah, malas kamu saja bersepeda sana!” Jawab Nola jengkel.

Nola kembali melanjutkan tidurnya. Noli lalu bergegas mandi, karena dia ingin segera bersepeda.

Ibu Noli tampak sibuk menyiapkan sarapan. Sedang asyiknya memasak, ternyata garamnya habis.

“Nola, bangun! Tolong ibu belikan garam, Nak”

Nola tak mendengar permintaan ibunya. Noli yang baru keluar dari kamar mandi langsung menyahut, “Sini, Bu. Noli belikan.”

Ibu memberikan uang pada Noli. Noli segera mengambil sepeda dan membeli garam. Noli bergumam dalam hati, “Heeem, asyik. Bisa membelikan garam ibu sekaligus bersepeda, nih.”

Ketika tiba waktu sarapan Nola masih tertidur pulas. Sedangkan Noli sibuk membantu menata makanan di meja makan.

“Nola, bangun. Lekas mandi dan sarapan.” Kata ibu sambil mengguncang badan Nola agar bangun.

“Nola masih ngantuk, Bu.”

“Itu akibatnya kalau kamu tidur terlalu malam. Ayo, ibu tunggu di meja makan. Jangan lupa rapikan tempat tidurmu.” Kata ibu sambil keluar kamar.

Nola dengan rasa malas akhirnya bangun dan duduk menikmati sarapannya. Ibu dan ayah yang melihat Nola makan tanpa mandi terlebih dahulu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah berulang kali Nola dinasihati untuk mandi dulu sebelum sarapan. Namun Nola selalu tak menuruti perintah kedua orang tuanya. Selepas sarapan Noli terlihat sedang membereskan tempat tidur Nola. Rupanya Nola juga tidak merapikan tempat tidurnya seperti perintah ibunya.

Sepanjang hari itu Nola menghabiskan waktu bermain ­game. Berbeda dengan Noli yang dengan riang membantu ibu menyiram bunga. Lalu ia membantu ayah yang sedang mencuci motor. Noli menyiram motor dan ayah menggosoknya dengan sabun. Noli tertawa riang ketika melihat gelembung sabun terbang terbawa angin.

Begitulah Noli dan Nola, si kembar sangat berbeda sifatnya. Noli selalu aktif bergerak dan Nola lebih suka diam rebahan sibuk dengan ponselnya. Noli suka bermain dengan kawan-kawannya dan Nola yang lebih suka menyendiri.

Libur telah tiba. Ayah bertanya, “Noli dan Nola apakah mau berlibur ke rumah nenek?”

“Noli mau, Yah!” jawab Noli antusias.

“Kamu, Nola?’ tanya ayah lagi.

“Malas, ah. Di sana nggak ada sinyal.” tolak Nola.

Rumah nenek mereka memang di pelosok desa yang belum ada jaringan internetnya. Karena itulah Nola tak suka ke rumah nenek.

“Baiklah. Besok ayah akan mengantar Noli ke rumah nenek.”

“Yeee, asyik.” Nola melonjak kegirangan. Nola hanya diam melihat tingkah Noli. Baginya tidak ada yang lebih asyik selain bermain game.

Keesokan harinya Noli di antar ayah berangkat ke rumah nenek untuk berlibur beberapa hari di sana. Noli merasa senang walau ia hanya berlibur sendiri di desa.

Beberapa hari tanpa Noli di rumah, Nola terpaksa harus mengerjakan pekerjaan yang biasa Noli lakukan. Nola harus merapikan tempat tidur sendiri, mangembalikan mainan setelah bermain, menyiram bunga, dan mencuci piring makannya sendiri. Kendati tidak senang semua pekerjaan itu Nola tetap harus melakukannya, karena ia tak bisa menyuruh Noli.  Di sela-sela pekerjaannya itu tentu Nola tetap bermain game. Nola tetap sibuk dengan ponselnya walau sudah larut malam. Kalau ibu masuk kamarnya dan mengambil ponselnya, barulah dia terpaksa tidur. Namun Nola sering merengek pada ibu jika ponselnya diminta.

“Ah, Ibu. Sebentar lagi, ya. Tanggung, nih!”

“Tidak, Nak. Sekarang waktunya tidur. Biar besok bisa bangun dengan badan segar.” Rayu ibu pada Nola. Nola pun tak bisa lagi membantah dan beranjak pergi tidur.

Seminggu setelah Noli di rumah nenek, Nola pun jatuh sakit. Kepalanya pusing, matanya merah dan terus keluar air mata. Badan Nola juga terasa sakit semua. Kedua orang tuanya membawanya ke dokter. Ibu menceritakan semua kebiasaan Nola pada dokter. Setelah memeriksa dan menulis resep, dokter menasihati Nola.

“Nola, sementara berhenti main game dulu, ya. Biar matanya sembuh.” Kata dokter yang disambut dengan anggukan Nola.

“Nola kan selama ini banyak rebahan dan kurang gerak, lalu tiba-tiba mengerjakan semua yang tidak pernah Nola lakukan. Jadi badan Nola yang semula tidak biasa bergerak lalu diajak bergerak, maka mudah capek dan sakit semua.” Lanjut dokter.

“O, gitu, Dok!” Sahut Nola sambil mengangguk-angguk.

“Nanti kalau sudah sembuh Nola biasakan olah raga ringan setiap hari, ya.”

“Baik, Dok.

“Jangan lupa vitamin dari dokter diminum, ya.”

“Ya, Dok.”

Sepulang dari dokter, Nola menyadari bahwa selama ini telah banyak menyusahkan Noli. Ia selalu menyuruh Noli mengerjakan semua pekerjaan yang harus dikerjakannya. Ia kini merasa kesepian tanpa saudara kembarnya itu.

“Ibu, Nola rindu Noli.” Bisik Nola sambil menangis.

“Iya, biar ayah besok menjemput Noli. Sekarang kamu minum vitaminnya dulu lalu tidur, ya, Nak.

Keesokan harinya Noli pulang bersama ayah. Nola yang sedang senam pagi bersama ibu di halaman rumah langsung berhambur memeluk Noli.

“Noli, maafkan aku, ya. Selama ini aku sering menyuruhmu dan tak mau membantumu. Aku sadar ternyata mengerjakan semua pekerjaan sendiri itu sangat berat.”

“Iya, aku sudah memaafkan kamu Nola.” Sahut Noli.

“Nah, anak-anak. Sebagai seekor semut kita harus rajin bekerja dan saling tolong menolong. Agar pekerjaan yang berat menjadi ringan.” Nasihat ayah pada kedua anak kembarnya.

“Ya, Ayah. Kini Nola tahu bahwa kita harus saling tolong menolong. Nola janji akan membantu Ayah, Ibu, dan Noli.” Ujar Nola girang.

Ibu tersenyum bahagia melihat kedua anak kembarnya kembali rukun dan berjanji saling membantu. Ayah dan menggandeng Nola dan Noli masuk rumah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

949 Taman Hijaukan Surabaya

Kontinuitas dalam Menulis

Berkebun Sawi Saat Pandemi