(1) Lelaki Pemeluk Mimpi
Entah harus bilang apa. Yang jelas dialah lelaki yang telah memenuhi otak kecilku dengan berbagai mimpi besar. Dan aku menyerah begitu saja dengan senang hati. Tak ada perlawanan, bahkan senang dan menikmatinya. Raut wajahnya serius. Tangannya sibuk membolak-balik koran Jawa Pos. Sepertinya ada yang dia cari. Aku melihatnya dari belakang punggungnya. Ah, sungguh tampak keren dan berkelas. Teh dan setangkup roti bakar yang disajikan perempuan yang dicintainya, dibiarkan mendingin sejak tadi. Kolom ekonomi bisnis menyita perhatiaannya. Sejurus kemudian dia menghela napas panjang lalu bersandar. Sekarang matanya menerawang jauh menembus halaman luas di depannya. Aku diam-diam masih berada di belakang punggungnya. Sungguh pemandangan yang aku rindukan setelah tahun-tahun sesudahnya. Kadang aku dihinggapi rasa sepi yang berkepanjangan ketika mengingat caranya menyeruput teh tanpa mengeluarkan suara. Atau sekadar melihat orang yang duduk dengan cara yang sama sepertinya. Duduk mengangk...