Postingan
Menampilkan postingan dari Maret, 2017
3. Memori Masa Kecil
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
3. MEMORI MASA KECIL Kini Sungai Brantas di dekat rumah nenekku telah banyak berubah. Airnya yang jernih menjadi keruh. Beberapa sampah tampak tersangkut di sela bebatuan tepi sungai. Hawanya tak lagi sedingin dulu. Tak ada lagi aktivitas penduduk desa menuruni lereng di pagi buta. Yang tampak para pemuda dari kota sedang arung jeram dan yang lain sedang asyik bersendau gurau di tepi sungai sambil selfie. Ritme desa ini telah berubah, seperti berubahanya suasana rumah nenek. Tak ada lagi dua Perempuan tua berkulit putih keriput, badannya mungil, dan wajahnya yang selalu berseri ketika menyambut kami bertiga datang. Dua perempuan yang mewarnai hidup kami sekeluarga.
2. Memori Masa Kecil
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
2. MEMORI MASA KECIL Kenangan masa kecil liburan di tempat ini masih terekam jelas. Ritme budaya mandi, mencuci, dan mengambil air untuk mandi sore di rumah, entah sudah berapa puluh tahun mereka lakukan. Anehnya penduduk desa ini mempunyai kamar mandi, walaupun belum punya akses air bersih dari PDAM. Kamar mandi mereka hanya digunakan mandi di sore hari, karena tidak mungkin turun ke sungai saat itu. Pada sore hari banyak monyet turun dan memenuhi jalan setapak menuju sungai. Ada hal unik lain yang dilakukan para perempuan ketika mencuci pakaian. Mereka menggunakan buah klerek sebagai pengganti sabun cuci dan daun dilem sebagai pengganti pewangi pakaian. Sebuah kearifan lokal yang tidak sengaja mereka ajarkan kepadaku sebagai anak yang lahir di kota. Tak ayal ketika aku menyambangi 10 tahun kemudian sungai yang tak jauh dari rumah nenek ini masih cukup bersih. Keterangan: Klerek/lerak (sapindus rarak) : tumbuhan penghasil bu...
1. Memori Masa Kecil
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
1. MEMORI MASA KECIL Sekitar seratus meter di kiri rumah nenekku mengalirlah Sungai Brantas. Airnya yang jernih, dingin, dan deras harus kami takhlukkan setiap pagi selepas salat Subuh. Maklumlah semua penduduk mandi, mencuci, dan mengambil air untuk mandi sore di Sungai ini setiap pagi. Tiap pagi buta kami harus menuruni lereng yang curam dan licin untuk sampai di Sungai, dan kembali mendaki lereng yang licin itu sebelum matahari muncu di balik lereng. Kenapa begitu? Karena giliran penduduk laki-laki berduyun-duyun ke Sungai. Letak sisi Sungai yang mereka datangi lebih curam dan berada di hilir sungai dibatasi oleh lereng bebatuan yang tinggi, sehingga tidak akan bisa mengintip perempuan yang kesiangan keluar dari sungai, misalnya. Begitulah ritme penduduk desa ini setiap hari, seakan mereka punya aturan yang tidak tertulis. Tertib dan saling menjaga satu sama lain. Pengalaman liburan tinggal di rumah nenek di masa kecilku itu masih terekam jelas...
1. Kisahku Bersama Blue
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
1. KISAHKU BERSAMA BLUE Ditemani dia “Blue” menyapa para pemetik teh. Kali ini wajahnya tak sesumringah ketika kami meyeruput teh di beranda tadi. Sambil bercerita, Nampak raut wajahnya lebih keruh. Keluh kesah tentang hidupnya mulai mewarnai langkah kami di sepanjang pematang kebun. Huuufff …. hembusan nafasnya mengepul putih tipis, tanda kabut pagi mulai sirna lebih awal. Senyumnya samar sambil mengucapkan terima kasih, karena telah mau mendengarkan gundah hatinya. Aku mulai melihat kilau berlian kecil di sudut matanya. Ini memang bukan yang pertama kalinya dia tanpak sangat manusiawi di depanku. Aku bersyukur dapat melihat dia dari sisi yang lain, bukan yang dilihat banyak orang selama ini. Thanks, sudah mempercayakan kisahmu padaku, "Blue". Bersambung ke bagian 2.