Detak Detik






DETAK DETIK

 

Sedari tadi aku sendiri

Sepi dan jauh dari tepi

Mencari janji yang kian bias

Menanti waktu yang makin buas

 

Sudah kutanya pada rembulan

Di mana aku bisa berkawan

Namun hanya satu yang sambut tangan

Di samping kecemasan dan ketidakberdayaan

 

Detik-detik terakhir kau datang

Menerobos bilik tanpa peringatan

Terbuai diri engkau menerjang

Riuh gaduh tegang jadi hiasan

 

Jakarta, 9 Desember 2016



* Telah dibukukan dalam Sehimpun Puisi Lingga dan Yoni.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

949 Taman Hijaukan Surabaya

Kontinuitas dalam Menulis

Berkebun Sawi Saat Pandemi