Ibuku Kartiniku


IBUKU KARTINIKU

 

Kami lahir di zaman yang berbeda.

Tingkat pendidikan kami jauh berbeda.

Cara pandang kami sering berbeda.

Namun ....

Tak pernah sedikut pun aku merasa jauh darinya.

Tak pernah sedikit pun aku malu padanya.

Tak pernah sedikit pun aku membantah pendapatnya.

Aku sadar aku tak kan dapat membalas semua budinya.

Yang bisa kulakukan hanyalah memahaminya seperti dia selalu memahamiku.



Seperti hari ini ....

Kami mengunjungi taman kota tak jauh dari rumah.

Bergurau dengannya sambil berbagi sosis bakar.

Aku lihat kakinya mulai bengkak, karena berjalan tadi.

Seperti biasa dia tak mengeluh.

Mungkin dia tak ingin merusak kebahagiaanku pagi ini.

Ibu ....

Terima kasih sudah mengajariku tentang

kelembutan

kesabaran

ketabahan

ketulusan

keikhlasan

kesederhanaan

dan masih banyak lagi yang selalu kau contohkan bukan kau katakan 

dan masih banyak lagi yang kau ajarkan yang tak kudapatkan di sekolah serta di buku manapun.

Terima kasih sudah berjuang seorang diri untukku dan kakak-kakakku dari kecil

Ayah pasti bahagia melihatmu dari sana

Karena itu ....

bagiku ibu adalah Kartiniku yang pertama dan utama untuk selamamnya.

 

Taman Bungkul-Surabaya, 21 April 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

949 Taman Hijaukan Surabaya

Kontinuitas dalam Menulis

Berkebun Sawi Saat Pandemi