(1) Lelaki Pemeluk Mimpi

Entah harus bilang apa. Yang jelas dialah lelaki yang telah memenuhi otak kecilku dengan berbagai mimpi besar. Dan aku menyerah begitu saja dengan senang hati. Tak ada perlawanan, bahkan senang dan menikmatinya.

Raut wajahnya serius. Tangannya sibuk membolak-balik koran Jawa Pos. Sepertinya ada yang dia cari. Aku melihatnya dari belakang punggungnya. Ah, sungguh tampak keren dan berkelas.

Teh dan setangkup roti bakar yang disajikan perempuan yang dicintainya, dibiarkan mendingin sejak tadi. Kolom ekonomi bisnis menyita perhatiaannya. Sejurus kemudian dia menghela napas panjang lalu bersandar. Sekarang matanya menerawang jauh menembus halaman luas di depannya. Aku diam-diam masih berada di belakang punggungnya.

Sungguh pemandangan yang aku rindukan setelah tahun-tahun sesudahnya. Kadang aku dihinggapi rasa sepi yang berkepanjangan ketika mengingat caranya menyeruput teh tanpa mengeluarkan suara. Atau sekadar melihat orang yang duduk dengan cara yang sama sepertinya. Duduk mengangkat kaki kiri di atas kursi dan tangannya sibuk menggeser biji sempoa dengan sigap.

Selepas puas menatap halaman dia akan beranjak masuk berpamitan pergi ke rumah sakit. Bukan untuk bekerja atau mendapatkan layanan kesehatan, tetapi menemui direktur rumah sakit. Keluar kantor direktur tak jarang tersungging senyum di wajahnya. Ya, dia mendapatkan order untuk membuatkan tempat tidur pasien lagi.

Sepulangnya dia pasti akan sibuk di ruang kerjanya berkutat dengan lembar-lembar kertas desain. Jika sudah begitu, aku diam-diam mengintipnya dari celah pintu. Wajahnya yang tampak serius dan tangannya yang cekatan menari-nari di atas kertas sungguh pemandangan yang menakjubkan bagiku.

Suatu kali ketika aku sedang mengintip, dia yang sedang serius tiba-tiba mendongak dan memandang ke celah pintu tempatku berdiri. Dia mengulas senyum dan menganggukan kepala memberi isyarat agar aku masuk ruang kerjanya. Aku masuk perlahan dan agak ragu. Aku takut kalau dia akan marah, karena diam-diam telah memperhatikannya.

Agaknya seluruh hal buruk yang berkecamuk di kepalaku semua salah. Ketika aku mendekat, dia langsung mengangkat tubuhku dan meletakkan dipangkuannya. Tangan kirinya melingkar dipinggangku dan yang kanan menunjuk beberapa gambar yang terhampar di atas kertas lebar yang menutupi hampir seluruh permukaan meja kerjanya. Dia membolak-balik lembaran itu sambil menjelaskan kepadaku desain yang telah dia selesaikan.

Mataku berbinar takjub melihat gambar desainnya, walaupun aku tak paham apa yang dijelaskannya. Garis-garis yang rumit dengan angka-angka di sekelilingnya hanya untuk sebuah gambar tempat tidur. Namun, bagiku semua kerumitan itu tampak sangat keren. Kelak aku ingin bisa menggambar seperti itu.

Jumat pagi tiba-tiba lelaki tinggi kurus berkulit putih itu terbaring tak lagi bangun. Tak ada lagi yang duduk di teras menikmati kolom ekonomi bisnis harian Jawa Pos ditemani segelas teh dan roti bakar yang dihidangkan perempuan yang dicintainya. Wajahnya pucat dan tak bergerak. Dia terbaring di tempat tidur contoh yang telah didesainnya diiringi bacaan Yasin. Suasana pagi yang biasanya riang menjadi sendu. Kini aku tak bisa lagi diam-diam memandang dari balik punggungnya. Ayahku yang tampak keren dan berkelas, sang lelaki pemeluk mimpiku telah pergi meninggalkan duka mendalam hingga kini. Ya, ayahku telah pergi meninggalkan aku dan semua mimpiku. Mimpi yang ingin aku raih dan kupersembahkan kepadanya.

Segenap Karyawan PT Djaja Bhakti Turut Berduka atas Berpulangnya Tuan Lee Yong Wei. Begitulah bunyi sebuah karangan bunga yang berdiri tepat di samping kiri gerbang rumah diikuti puluhan karangan bunga yang berjajar di sepanjang jalan menuju rumah. Ayahku telah terpisah dengan cinta sejatinya yang menjadi cinta terakhirnya.

Ini adalah kisahku, Kawan. Aku Zahra yang terlahir sebagai A Ling, yang akan menceritakan kisah petualangan tentang pencarian jati diri, meraih mimpi, dan perjalanan cinta yang tak mudah. Selamat membaca.


Bersambung di bagian ke 2.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

949 Taman Hijaukan Surabaya

Kontinuitas dalam Menulis

Berkebun Sawi Saat Pandemi