Tiga Pertanyaan


Tiga Pertanyaan

 

Randy yang telah lulus kuliah di Harvard University, Cambridge pulang ke tanah kelahirannya Jombang. Sayangnya perangai Randy berubah menjadi sombong dan suka merendahkan orang lain. Kedua orang tua Randy merasa sangat malu dan sedih dengan perubahan anaknya. Terlebih ketika kedua orang tuanya melihat Randy telah meninggalkan ajaran agama dan tak mempercayainya lagi.

Subhan, Ayah Randy sudah mengiatkan dan menasihati, hingga sering bertengkar agar Randy kembali beribadah. Namun, hati Randy seakan membatu. Ketika puncak pertengaran dengan ayahnya, akhirnya Randy meminta ayahnya untuk mencarikan seorang guru agama yang bisa menjawab tiga pertanyaannya.

“Yah, carikan aku seorang guru agama,” pinta Randy.

“Baiklah, akan kucarikan. Semoga kau mendapatkan apa yang kau inginkan” jawab ayahnya.

Akhirnya orang tua Randy mendapatkan orang yang dimaksud. Ayah dan Ibu Randy duduk agak menjauh ketika Randy berbicara dengan guru agama yang mereka bawa.

“Anda siapa?” Tanya Randy dengan sombong pada seorang lelaki tua dihadapannya.

“Saya hamba Allah,” jawab Pak Somad sang lelaki tua itu.

Randy tahu persis bahwa lelaki tua dihadapannya adalah Pak Somad guru ngajinya saat masih kecil. Penampilan Pak Somad masih seperti dulu, sederhana dengan baju koko, kain sarung dan sandal selop warna cokelat. Hanya rambutnya saja yang sudah memutih menyembul di bawah kopiyah hitamnya.

Setelah keduanya duduk di ruang tamu, Randy mulai membuka percakapan.

“Apakah Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?” Tanya Randy dengan nada sombong.

“Dengan izin Allah, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Saudara,” jawab Pak Somad dengan hormat.

“Saya punya tiga pertanyaan; pertama, kalau memang Allah itu ada, tunjukkan wujud Allah kepada saya! Kedua, apakah yang dimaksud dengan takdir? Dan yang ketiga, kalau setan diciptakan dari api, mengapa dimasukkan ke neraka yang dibuat dari api? Jawablah!”

Tiba-tiba Pak Somad mendekat dan menampar pipi Randy dengan kuat. Plaaakkk!!!

“Aduh, kenapa Anda marah kepada saya?” Ujar Randy sambil meringis kesakitan.

“Saya tidak marah tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga pertanyaan yang Saudara ajukan kepada saya.” Jawab Pak Somad ringan.

“Saya sungguh-sungguh tidak paham dengan yang Anda maksud,” kata Randy bingung.

“Bagaimana rasanya tamparan saya barusan?” Tanya Pak Somad.

“Tentu saja sakit,” jawab Randy.

“Jadi, Saudara percaya bahwa sakit itu ada?”

Randy mengangguk tanda percaya.

“Kalau begitu, tunjukkan pada saya wujud sakit itu!”

“Tidak bisa,” jawab Randy.

“Itulah jawab pertanyaan pertama. Kita semua merasakan wujud atau keberadaan Allah tanpa mampu melihat wujudnya.” Terang Pak Somad kepada Randy.

“Apakah tadi malam Saudara bermimpi akan saya tampar? tanya Pak Somad lagi.

“Tidak.”

“Apakah pernah terpikir oleh Saudara akan menerima tamparan dari saya hari ini?”

“Tidak.”

“Itulah yang dinamakan takdir.” kata Pak Somad menjelaskan.

“Dibuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar Saudara?” tanya Pak Somad kembali.

“Kulit.”

“Pipi Saudara terbuat dari apa?”

“Kulit.”

“Bagaimana rasanya tamparan saya tadi?”

“Sakit.”

“Nah, Walaupun setan terbuat dari api dan neraka terbuat dari api, jika Allah berkehendak, neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk setan,” terang Pak Somad.

Randy yang mendengar jawaban Pak Somad tertunduk malu dan terdiam lama. Pak Somad beranjak pulang. Subhan dan istrinya yang sedari tadi duduk menjauh melihat perdebatan itu, akhirnya beranjak mengikuti langkah Pak Somad. Keduanya meminta maaf atas kelancangan ucapan anaknya pada Pak Somad. Pak Somad yang bijak memakluminya. Senyumnya tersungging tulus sembari berlalu dari rumah muridnya itu.

Ayah dan ibu Randy kembali masuk rumah. Tak disangka ketika Randy melihat ibunya di ambang pintu langsung berhambur memeluknya sambil tergugu. Sejurus kemudian tangisnya pecah bersama kata penyesalan dan keinsyafan. Ketiga anak beranak itu berpelukan haru.

 

Kisah ini diceritakan kembali dari tutur dengan berbagai perubahan dan modifikasi.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

949 Taman Hijaukan Surabaya

Kontinuitas dalam Menulis

Berkebun Sawi Saat Pandemi