Postingan

2. Kisahku Bersama Blue

Gambar
  2.   KISAHKU BERSAMA BLUE   Banyak orang bilang bahagia itu sederhana. Namun ternyata tidak bagi Blue. Untuk sekadar duduk tak terganggu saja harus mencari tempat ratusan kilo meter dari tempat tinggalnya.  Menemukan tempat nongkrong baru yang masih sepi adalah agendaku buatnya. Hijau, dingin, dan sepi. Bersyukur dia menyukai tempat ini. Hingga dia bisa melepas topengnya sejenak.   “Aku merasa pulang,” ucapnya lirih sambil menghela napas panjang.   Menulis kembali rasa bersamamu tak perlu tempat yang wah. Cukup berjalan di pematang sawah dan duduk menikmati segelas air nira sambil bertukar tutur merentas rindu. Kebun teh, sawah, jurang, paralayang, kuda, busur, dan panah menjadi saksi tawa lepasnya. Tak tertinggal teh, kopi hijau, dan air nira yang melengkapi hangatnya Blue. Dia harus menikmati sebelum kembali bertopeng, berlenggok di mall dan larut dalam gelak Starbuck.   “Berubah adalah suatu keniscayaan. Namun dengan selalu memelih...

Aku Bahagia Ketika ...

Gambar
AKU BAHAGIA KETIKA . . . : Blue   melihatmu terbang bersama hembusan angin mendengarmu tertawa lepas dari beban rutinitas menghirup hawa kebebasan yang tak terbeli merasakan indahnya hari berlenggok dengan mesra   Batu, 30 Maret 2017   * Telah dibukukan dalam Sehimpun Puisi Lingga dan Yoni.  

3. Memori Masa Kecil

Gambar
  3.   MEMORI MASA KECIL   Kini Sungai Brantas di dekat rumah nenekku telah banyak berubah. Airnya yang jernih menjadi keruh. Beberapa sampah tampak tersangkut di sela bebatuan tepi sungai. Hawanya tak lagi sedingin dulu. Tak ada lagi aktivitas penduduk desa menuruni lereng di pagi buta. Yang tampak para pemuda dari kota sedang arung jeram dan yang lain sedang asyik bersendau gurau di tepi sungai sambil selfie.   Ritme desa ini telah berubah, seperti berubahanya suasana rumah nenek. Tak ada lagi dua Perempuan tua berkulit putih keriput, badannya mungil, dan wajahnya yang selalu berseri ketika menyambut kami bertiga datang. Dua perempuan yang mewarnai hidup kami sekeluarga.

2. Memori Masa Kecil

Gambar
  2.   MEMORI MASA KECIL   Kenangan masa kecil liburan di tempat ini masih terekam jelas. Ritme budaya mandi, mencuci, dan mengambil air untuk mandi sore di rumah, entah sudah berapa puluh tahun mereka lakukan. Anehnya penduduk desa ini mempunyai kamar mandi, walaupun belum punya akses air bersih dari PDAM. Kamar mandi mereka hanya digunakan mandi di sore hari, karena tidak mungkin turun ke sungai saat itu. Pada sore hari banyak monyet turun dan memenuhi jalan setapak  menuju sungai.   Ada hal unik lain yang dilakukan para perempuan ketika mencuci pakaian. Mereka menggunakan buah  klerek sebagai pengganti sabun cuci dan daun dilem sebagai pengganti pewangi pakaian. Sebuah kearifan lokal yang tidak sengaja mereka ajarkan kepadaku sebagai anak yang lahir di kota. Tak ayal ketika aku menyambangi 10 tahun kemudian sungai yang tak jauh dari rumah nenek ini masih cukup bersih.   Keterangan: Klerek/lerak (sapindus rarak) : tumbuhan penghasil bu...

1. Memori Masa Kecil

Gambar
  1. MEMORI MASA KECIL   Sekitar seratus meter di kiri rumah nenekku mengalirlah Sungai Brantas. Airnya yang jernih, dingin, dan deras harus kami takhlukkan setiap pagi selepas salat Subuh. Maklumlah semua penduduk mandi, mencuci, dan mengambil air untuk mandi sore di Sungai ini setiap pagi.   Tiap pagi buta kami harus menuruni lereng yang curam dan licin untuk sampai di Sungai, dan kembali mendaki lereng yang licin itu sebelum matahari muncu di balik lereng. Kenapa begitu? Karena giliran penduduk laki-laki berduyun-duyun ke Sungai. Letak sisi Sungai yang mereka datangi lebih curam dan berada di hilir sungai dibatasi oleh lereng bebatuan yang tinggi, sehingga tidak akan bisa mengintip perempuan yang kesiangan keluar dari sungai, misalnya.   Begitulah ritme penduduk desa ini setiap hari, seakan mereka punya aturan yang tidak tertulis. Tertib dan saling menjaga satu sama lain. Pengalaman liburan tinggal di rumah nenek di masa kecilku itu masih terekam jelas...

1. Kisahku Bersama Blue

Gambar
  1. KISAHKU BERSAMA BLUE   Ditemani dia “Blue” menyapa para pemetik teh. Kali ini wajahnya tak sesumringah ketika kami menyeruput teh di beranda tadi. Sambil bercerita, Nampak raut wajahnya lebih keruh. Keluh kesah tentang hidupnya mulai mewarnai langkah kami di sepanjang pematang kebun.   Huuufff …. hembusan nafasnya mengepul putih tipis, tanda kabut pagi mulai sirna lebih awal. Senyumnya samar sambil mengucapkan terima kasih, karena telah mau mendengarkan gundah hatinya.   Aku mulai melihat kilau berlian kecil di sudut matanya. Ini memang bukan yang pertama kalinya dia tanpak sangat manusiawi di depanku. Aku bersyukur dapat melihat dia dari sisi yang lain, bukan yang dilihat banyak orang selama ini.   Thanks, sudah mempercayakan kisahmu padaku, "Blue". Bersambung ke bagian 2.

CHIUS: 8

Gambar
  CATATAN HARI INI UNTUK SELAMANYA (8)   9 Agustus 2010 Mengapa kau menutup pintu terlalu rapat? Kalau orang tak boleh melihat ke dalam, tidakkah kau ingin melihat keluar. Mengapa kau buat dirimu sendiri tak bahagia? bukankah kau ingin membahagiakan orang yang kau kasihi.   13 Agustus 2010 Sang Pencerah Wahai engkau yang mengajari orang lain, tidakkah pelajaran itu juga berlaku bagimu. Engkau memberikan obat kepada orang sakit agar ia sembuh, padahal dirimu juga sakit. Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk, padahal engkau sendiri mandul petunjuk. Mulailah dari dirimu dan cegahlah dari penyimpangan. Jika itu engkau lakukan maka engkau orang yang bijak. Kala itulah nasihatmu akan diterima, ilmumu akan diikuti, dan pengajaranmu akan berguna.   13 Agustus 2010 Sikap bersahabat dengan anak memiliki peranan yang besar dalam mempengaruhi jiwa mereka.   13 Agustus 2010 Perilaku seseorang akan menjadi cermin bagi sah...