Postingan

Riuh

Gambar
  R I U H   Riuh kota tertinggal jauh Jalan berliku di balik bukit Menantang langkah yang hampir terhenti Lelah pasrah pada keringat deras Berharap surga di balik bukit   Sorak hati wakili kelu lidah Terbayar sudah sumpah serapah Kaki telanjang tapaki pasir putih Mencuri hari di antara deru zaman Gelak tawa cairkan kebekuan   Riuh tetap ada Di sini denganku Riuh masih bersama Terbawa ke surga di balik bukit   Pulau Sempu-Malang, 29 September 2017   * Telah dibukukan dalam Sehimpun Puisi Lingga dan Yoni.

Senja

Gambar
  S E N J A   Ketika senja menghampiri Aku masih di sini Bersama kekinian yang tak kumengerti Banyak simpati Tak kurang pula bibir mencibir   Ketika senja memeluk Aku masih diam Menikmati hangatnya euforia kaum muda Simpati hanya ornamen Cibiran jadi cambuk penghela   Ketika senja ingin ditemani Aku sadar saatnya melanjutkan langkah Meninggalkan hari yang akan gelap Menyambut sinar surya yang pasti datang   Surabaya, 12 September 2017   * Telah dibukukan dalam Sehimpun Puisi Lingga dan Yoni.

Pelangi di Tepi Laut

Gambar
PELANGI DI TEPI LAUT   Hello, Sahabat traveller. Salam kenal dariku. Via blog ini aku ingin berbagi kisah perjalananku di berbagai daerah di Nusantara. Namun dalam kisah perjalanan perdana ini aku pilih satu dulu, ya. Kali ini tentang kisah perjalananku ke salah satu destinasi wisata di Surabaya.   Mumpung libur, aku berencana seharian ini untuk traveling yang murah dan mudah. Murah, karena tak perlu menghabiskan budget besar. Mudah, karena tempatnya yang relatif dekat dari tempat tinggalku. Pagi-pagi aku sudah meluncur dengan motor kesayanganku Honda Vario 150 Exclusive Pearl White yang kuberi nama “Elang”. Aku ajak Elang menyusuri jalanan Surabaya yang masih sepi menuju wilayah Surabaya Utara. Tujuanku kali ini adalah Jembatan Suroboyo dan Kampung Warna-Warni. Aku sengaja berangkat lebih pagi, agar tidak panas, Maklumlah, tempat yang aku kunjungi adalah wilayah pantai. Selain itu, membawa bekal minum air mineral secukupnya agar tidak dehidrasi, dan kaca mata hit...

Negeri Merdeka

Gambar
NEGERI MERDEKA   Bernapas tanpa terbenam polusi Hijau membentang penjuru nadi Berlenggang tak takut penghalang Harapan terpampang seluas samudera   Terdengar gelak generasi di ujung-ujung negeri Jauh terpisah tak lagi sepi Hati bertaut cinta yang sama Hilang luka terbasuh kasih mesra   Bukan mimpi jika terjaga Semua bisa menjadi nyata Tujuan sama cara berbeda Sudah biasa kita binneka   Surabaya, 17 Agustus 2017   * Telah dibukukan dalam Sehimpun Puisi Lingga dan Yoni.

Kini

Gambar
K I N I   Ketika menjadi minoritas akan mencari arti toleransi Ketika lingkungan hiterogen akan memahami makna berbagi Ketika melihat perbedaan akan menemukan kebenaran Ketika merasakan keberagaman akan mengerti hidup tak bisa sendiri Ketika hidup bersama akan tahu cara mencintai   Jangan bilang toleransi jika mulut masih sering memaki Jangan katakan telah bertenggang rasa jika teman masih mencari yang sama Jangan ucap diri cinta sesama jika tak sudi melihat yang beda   Jika hidup lebih berwarna maka akan tahu makna bhinneka   Surabaya, 9 Agustus 2017   * Telah dimuat di Harian Kabar Madura pada Kamis, 24 Agustus 2017.

Rindu

Gambar
R I N D U (1)   Rindu dalam raga tanpa kata yang terucap Rindu dalam waktu tanpa jarak yang tertempuh Rindu dalam doa tanpa sua yang bertaut   Rindu siapakah kau?   Surabaya, 8 Agustus 2017       R I N D U (2)   Bila rasa tak mau beranjak dari peraduan maka cinta akan bersemayam Bila hati telah terpaut pada kehendak maka bukan bibir yang akan terucap   Kata frasa dan kalimat hanya menjadi hamba sahaya yang tunduk pada tuannya Pena tinta dan tangan tak lagi berharga nampak hina dina   Apa yang kau rindu jika hanya berangan hampa Di mana kan kau cari jika raga tak sudi bangkit Siapa yang mau menjemputmu jika rupa tak berbudi   Sudahlah ….. Biarkan rindu pergi mengejar mimpi Sudahlah ….. Tinggalkan rindu menjadi mantan Tak usah kau hiraukan kepahitan Apalagi kau tengok jadi kenangan Surabaya, 8 Agustus 2017 * Telah dimuat di harian Kabar Madura pada Jumat, 25 Agus...

Sepiring

Gambar
S E P I R I N G   Bukan bintang nan jauh di angkasa Bukan hamparan emas permata Bukan kapal pesiar mewah yang mengarungi samudera   Bukan . . . Bukan . . . Bukan . . . Aku menunggu engkau meninggikanku dalam kemuliaan Aku menunggu engkau menyebutku dalam lautan doamu Aku menunggu engkau melabuhkan harapanku dalam hidupmu   Yang kupinta hanya sesederhana sepiring ketupat saat lebaran tiba Hanya sepiring saja tak lebih Ya . . . hanya sepiring   Surabaya, 5 Juli 2017   * Telah dimuat di Harian Kabar Madura pada Senin, 11 September 2017.